02
Mar
09

candi borobudur

Magelang – Siapa yang tidak mengenal Candi Borobudur? Candi Borobudur adalah monumen Buddhis yang dibangun dinasti Sailendra. Penguasa kerajaan Mataram abad ke-9 di dataran Kedu, di kaki pegunungan Menoreh.

candi borobudur

Terkubur oleh abu letusan Merapi, Candi Borobudur dilupakan, sampai diketemukan oleh Raffles dan di gali kembali oleh Van Erp.

Istimewa
Candi Borobudur .

Sejak terungkap menjadi suatu buku sejarah dari batu yang memberikan informasi sangat rinci tentang kehidupan para bangsawan dan rakyat dan kepercayaan mereka pada zaman itu. Ratusan artikel dan buku bersifat ilmiah dan populer tentang Borobudur telah diterbitkan, dan hingga kini para ilmuwan, budayawan, seniman dan pemerhati Borobudur masih datang dengan teratur untuk mengabadikan pelbagai aspek candi baik dalam tulisan maupun dengan foto dan film.
Candi Borobudur kemudian menjadi obyek wisata yang populer, yang mendatangkan 2,7 juta pengunjung setiap tahun, dan dengan itu, penyumbang devisa yang penting. Tetapi lebih dari ”obyek”, Candi Borobudur adalah Warisan Dunia (World Heritage), dan monumen budaya yang agung, serta monumen spiritual yang masih mengilhami. Akhirnya, Candi Borobudur juga menjadi sasaran penghancuran oleh kelompok fanatik yang pernah mencoba meledakkannya. Lebih beruntung dari monumen Budha di Bamiyan, Afghanistan, Candi Borobudur hanya ”tergores”, kemudian dapat direstorasi.
Di samping bom, hujan dan longsor pernah mengancam keutuhan Candi. Hingga suatu program restorasi besar dilaksanakan pemerintah bersama UNESCO. Candi Borobudur dibangun kembali setelah diberi landasan beton yang kokoh. Sebagai World Heritage, pelbagai pihak, dari Dinas Purbakala, UNESCO, organisasi Budhis, donatur dalam dan luar negeri, bekerja sama untuk memelihara dan melestarikan Borobudur. Jadi siapa pemilik Borobudur?
Tentu yang memilikinya adalah umat manusia, khususnya rakyat Indonesia, termasuk penduduk desa dan Kecamatan Borobudur, pewaris dari para pembangun monumen agung itu. Candi Borobudur bukan hanya satu bangunan, tetapi mahkota dari suatu kawasan yang bagi rakyat Mataram kuno mempunyai arti spiritual yang tinggi.

Tanah Suci
Candi Borobudur bagian dari suatu kompleks, bersama dengan Candi Mendut dan Candi Pawon yang terletak dalam satu garis dengan Candi Borobudur, dan di delapan penjuru angin terletak sejumlah desa yang dari namanya masih dapat diduga berkaitan dengan pembangunan dan pemeliharaan Borobudur.
Sejumlah ahli menduga bahwa kawasan Borobudur adalah kawasan yang disucikan, seperti Tanah Lot. Pura Tanah Lot bukan hal terpisah dari kawasan, tetapi lebih merupakan marker yang mensucikan kawasan. Cirinya adalah terdapat suatu kesatuan pengelolaan sumberdaya alam dan pola sosial-budaya yang menyatu dalam satu sistem ekologis sosial dan ekologis budaya.
Dalam agama Hindu Dharma atau agama Tirta, suatu kawasan disucikan karena fungsi hidro-geologis, yang aspek sosial budayanya adalah kultus Dewi Danu dan sistem subak.
Apakah demikian halnya dengan Borobudur belum diketahui. Tetapi menurut penduduk Borobudur, di zaman Mataram Hindu, Candi Borobudur terletak di tepi suatu danau, yang berhubungan dengan sungai Progo yang pada zaman itu mengalir jauh lebih dekat Candi daripada sekarang. Penduduk mengatakan bahwa pembangunan kawasan dilakukan sebagai mandala.
Hal itu tentu masih membutuhkan penelitian lebih jauh dari pihak para ahli. Tetapi jelas bahwa untuk pengembangan pariwisata, konsep kawasan adalah konsep yang sangat menarik, dan jika dilakukan dengan daya cipta yang tinggi, kawasan Borobudur itu dapat dijadikan bukan hanya daerah tujuan wisata, tetapi kawasan pengembangan wisata seperti Ubud. Hal ini akan melibatkan dan ikut memajukan kawasan sekitar, maupun yang disebut ”lingkaran ketiga” yaitu desa dan Kecamatan Borobudur, maupun ”lingkaran keempat”, atau pedesaan yang merupakan pinggiran mandala, termasuk di kawasan Menoreh.

Lingkaran Pengaruh
Keuntungan pendekatan seperti itu berganda. Satu, pemasukan dari 2,7 juta wisatawan per tahun itu dapat membangun kawasan dan masyarakat serta lingkungan hidupnya, yang sampai saat ini hanya tersentuh secara minimal. Keuntungan besar didapatkan justru oleh industri pariwisata yang berada di Yogya, darimana wisatawan dikirim sebagai bagian dari day trip.
Kedua: lingkaran ketiga dan keempat dapat dikembangkan dengan pola community based tourism, sebagaimana kita lihat sangat berhasil di tempat seperti Ubud, di mana industri pariwisata justru datang belakangan menumpang keberhasilan masyarakat dalam penyediaan fasilitas dan akomodasi yang sangat memadai, seperti pengadaan homestay, pertunjukan kesenian, dan pelbagai pelayanan lainnya. Hal ini akan memberdayakan masyarakat sebagai pengusaha dan pelaku, di mana tidak dibutuhkan investasi besar, yang akibatnya dapat berupa pembengkakan utang negara dan sebagai bentuk ”penetrasi modal”, dengan akibat penggusuran sosial-budaya.
Dan ketiga tidak kalah pentingnya, keterlibatan masyarakat dalam pelestarian ekologi Menoreh—yang melindungi dataran Kedu di mana Borobudur berada, agar tidak terjadi terulangnya peristiwa Dieng.
Tetapi sangat ironis bahwa dalam era reformasi ini wacana perekonomian rakyat, khususnya dalam sektor pariwisata, masih saja dilecehkan sebagai hal yang kere, tidak menguntungkan, tidak mendatangkan pemasuk-an untuk negara dan daerah. Bahwa ”rakyat” adalah pihak yang dengan sabar dan berterima kasih harus menunggu ia kebagian usaha pembangunan oleh pengusaha yang diberi pelbagai konsesi oleh penguasa, tentu dengan imbalan yang ”layak”, itu pun menurut penafsiran penguasa.
Padahal pandangan paternalistis dan kebijakan bahwa rakyat bukan pelaku pembangunan, tetapi sekedar beneficiary sudah terbukti menjadikan mereka justru korban pembangunan, dan pengusaha/investor yang diperikirakan akan menjadi mesin pembangunan, telah meninggalkan negara dengan beban kehancuran lingkungan, kesenjangan sosial-ekonomis, degradasi kebudayaan, dan utang yang melangit. Pandangan era Orde Baru adalah pembangunan identik dengan penanaman modal besar.

Berkelanjutan
Begitupun untuk kawasan Borobudur, sejumlah penguasa dan peng-usaha merencanakan pembangunan besar-besaran, mencakup terminal wisata, jalan trem, pasar seni, dan lain-lain. Semua akan terpusat di lingkaran pertama dan kedua, di mana lingkaran pertama adalah Candi Borobudur itu sendiri, dan lingkaran kedua adalah Taman Wisata Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko, BUMN yang sahamnya dimiliki pemerintah dan swasta yang merupakan ”penguasa” Candi Borobudur yang sesungguhnya.
Hal ini merupakan pelecehan kepada bangsa Indonesia pewaris Candi Borobudur, di mana suatu monumen budaya dan spriritual dikuasai beberapa orang yang punya kuasa titipan dan modal merasa dapat memakai Borobudur untuk keuntungan pribadinya. Juga merupakan pelecehan kepada roh nenek moyang yang telah membangun suatu karya agung, dan pelecehan kepada pihak-pihak yang telah berdaya upaya agar Candi itu dapat utuh kembali, baik yang menyumbang dana, menyumbang ilmu, dan menyumbang tenaga.
Harus ada suatu rencana induk yang ”politically & ecologically correct”, maka rencana itu tidak boleh dibuat oleh sekelompok penguasa dan pengusaha yang menitipkannya kepada konsultan rekanan-rencana itu harus dibuat oleh kelompok stakeholders yang mencerminkan bahwa Candi Borobudur bukan milik sekelompok atau perorangan. Semua pihak, UNESCO, dinas pariwisata, dinas purbakala, penyumbang dan pemerhati dari dalam dan luar negeri, rakyat setempat, harus terlibat


0 Responses to “candi borobudur”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


kalender

March 2009
M T W T F S S
     
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

RSS berita

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

RSS berita2

RSS soccer

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

%d bloggers like this: